Minggu, 13 Maret 2016

Ajaran Buah Mangga

Judul ini terinspirasi dari judul yang serupa yaitu ajaran kulit mangga, bukan untuk menandingi, tapi sekedar menanggapi dan merespon dari tulisan yang serupa dan juga untuk menaikkan traffic blog mendalami teori yang ada. Bagi yang mengikuti tulisan tulisan saya sebelumnya mungkin ini salah satu sedikit membuka kartu tentang apa-apa yang saya alami kemarin, pembelajaran universitas dan kegiatan pasca kesarjanaan dan bagi yang sudah terlibat di gelombang yang mungkin sama dari gelombang yang saya ikuti, mungkin akan langsung paham apa yang saya tulis pada tulisan-tulisan sebelumnuya.

Pengajaran Buah Mangga berarti salah satu metode yang tidak hanya memberikan barang jadi kepada peserta didik/ajar tetapi akan membiarkan para peserta untuk bereksplorasi dan berkreasi sesuai dengan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh para peserta, jadi bahan pelajarannya tidak selalu ilmu eksak, bahkan yang diberikan terkadang juga bersifat kulit mangga yang harus dikupas terlebih dahulu, bahkan isi mangga alias pelog (bahasa jawa) yang harus ditanam dahulu dan menunggu sampai pohonnya tumbuh dan berbuah.

Dari beberapa kejadian yang terjadi di sekitar wilayah saya berada, saya memang mengalami beberapa kejadian pelajaran yang bersifat buah,kulit, bahkan pelog. Yang berarti sesuatu hal baik ini dan itu, di dalam kehidupan dapat diketahui dengan cepat ataupun lambat, dan terkadang jawaban dari permasalahan tersebut muncul dari tempat yang tidak diduga duga di tempat yang terlihat sepele.

Dan akhirnya saya kembali ke satu kata bijak yaitu menuntut ilmu sampai ke liang lahat, bahkan tuntutlah ilmu walau bersama (dengan) cina bukan sampai ke negeri lo ya, ingat. Disamping kita juga harus bisa membedakan mana yang namanya ilmu dan mana yang namanya pengetahuan. Pengetahuan adalah perihal jenis jenis buah mangga sedangkan ilmu adalah bagaimana cara menanam mangga sampai bagaimana agar mangga tersebut bisa sampai ke potensi terbesarnya dalam masa bertumbuh agar mendapatkan buah yang melezatkan.

Meskipun begitu saya diajarkan dan mengambil pelajaran dari satu point yang saya masukan hati dan pikiran saya bahwa, meskipun besok, atau bahkan nanti hari sudah berakhir yang kita bisa lakukan adalah tetap dan terus menanam sebanyak banyaknya tanpa kita bisa memastikan apa yang kita tanam berbuah atau tidak, itu urusan tuhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar